NON FIKSI
Bibir tersenyum hati menangis
Isi buku ini menuliskan gejala umum kejiwaan, psikologi dan nurani kita yang terbiasa untuk menipu diri sendiri. Kita terbiasa untuk bersikap ramah dengan seseorang. Kita terbiasa untuk tersenyum bahagia, sedangkan hati tengah menangis pilu karena duka dan derita. Kita terbiasa bersikap hormat pada orang yang menurut hati kita sungguh tidak patut dihormati. Kita terbiasa untuk mengerjakan sesuatu yang hati kita justru menolaknya. Ya, kita sangat suka mengenakan topeng ! "Bibir tersenyum, hati menangis " adalah fenomena global dan faktual pada zaman modern ini, atau jangan-jangan termasuk kita juga yang menyebabkan kepribadian kita terbelah, ambivalen, munafik ! Mengapa kita menjadi cenderung munafik, berkepribadian ganda, dan berjiwa ambivalen ?
| SMA743446 | 297.313 2 Muh B | My Library (Non Fiksi) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain